<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380</id><updated>2011-04-22T04:55:34.426+08:00</updated><title type='text'>Memoar Sederhana</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-114130018931823203</id><published>2006-03-02T19:43:00.000+08:00</published><updated>2006-03-02T19:53:51.223+08:00</updated><title type='text'>Mon Cher</title><content type='html'>Suatu hari di penghujung tahun 2002, sepucuk surat sampai ke genggaman. Dengan amplop yang didominasi warna hijau tua tertulis di sebelah kiri atas nama pengirimnya, Ben Maamer Ahmed dengan alamat : Cite 272 Logts Bt.24 N0173 Hassi Messaoud Wilaya de Ouargla, Algerie. Hati saya berbunga-bunga, perasaan tidak sabar untuk segera membacanya. Betapa tidak, Ben adalah seorang teman yang baik dan surat di genggaman adalah bukti dari keinginannya untuk merajut benang-benang persahabatan. Dituliskan dalam bahasa Arab dan Prancis membuat saya tersenyum karena harus membuka lagi kamus-kamus bahasa sambil mereka-reka isi surat tersebut.&lt;br /&gt;Tidak banyak memang yang dituliskan.  Kegembiraan tulus akan persahabatan yang mengharukan, permohonan maaf karena foto belum sempat dikirimkan, tentang pertemuan imajiner di masa depan antara dirinya dan diriku, dan ditutup dengan gambar bunga yang di sketsa sendiri serta sebuah tulisan `I love You Rano`. Perasaan bahagia berbuncah, saya tahu dia mencintai saya sebagai seorang muslim seperti juga saya mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti pepatah Latin `O Tempora , O Mores` , betapa cepat waktu berlalu demikianlah hari-hari dalam kehidupan saya. Kesibukan demi kesibukan menyita perhatian dan menyisakan ruang kecil untuk makhluk yang bernama persahabatan. Surat-surat Ben terlipat di dalam buku-buku tebal, sampai sekarang belum sempat terbalaskan. Dalam pikiran terlintas kenapa harus susah-susah mengirim surat bukankah sudah ada email (jarang juga mengirim email karena malas), walaupun saya berjanji dengan dia untuk membalas suratnya sesegera mungkin. Terakhir kali saya berbicara dengannya melalui voice chat di yahoo msn beberapa bulan yang lalu. Dia menanyakan tentang balasan surat dari saya atas surat-surat yang telah dia kirimkan . Malu, dan perasaan rikuh muncul , mencari-cari alasan sampai akhirnya dia tidak bertanya lagi mengenai hal itu (mengirim email pun tidak saya lakukan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya terjadilah peristiwa itu. Gempa bumi di Aljazair yang lalu  menewaskan 1800 orang lebih dan 8000 orang terluka (angka tersebut akan terus bertambah). Saya tergagu, mulut terbuka, serta merta saya teringat tentang Ben. Seperti orang gila saya membuka kembali buku-buku mencari alamatnya dan sesegera mungkin browsing di Internet akan kemungkinan tertimpanya musibah atas diri Ben. Namun semua informasi tidak bisa menenangkan kecemasan, tertulis listrik dan telpon terputus di kota Aljiers, rumah-rumah runtuh dan kerugian material tidak terhitung lagi. Panik , saya mencoba menulis email untuknya. Sayang, beberapa detik berikutnya dibalas dari official staff bahwa email bersangkutan tidak aktif lagi. Pasrah, tidak bisa berbicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari saya terasa mati. Wajah Ben terbayang , muncul harapan dan optimisme bahwa Ben masih hidup namun terkalahkan oleh kesedihan dan ketakutan. Sejujurnya ini bukan kali pertama, sebelumnya seorang sahabat yang baik meninggal tanpa pesan karena kecelakaan. Pada saat lain, meninggal karena sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi hantu di kepala adalah perasaan bersalah yang tidak kunjung hilang. Positive thinking terhadap orang lain melenakan diri saya dalam kealpaan. Saya selalu berpikir bahwa mereka sehat, baik-baik saja, kala lama tidak jumpa cuma terlintas mungkin mereka sibuk, jadi jangan mengganggu mereka. Tidak ada keinginan untuk mengetuk pintu mereka (rasa malas selalu muncul), menyapa ataupun sekedar bertanya. Hingga semuanya terjawab dengan berita mengejutkan ` kematian ` tanpa pernah kata maaf terucap sebelum kepergian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan terasa letih, pikiran tak kunjung mau mengerti.  Demi peristiwa yang beruntun , membuat saya mencoba memaknai kembali arti kematian. Membaca buku-buku dan tulisan terkait dengan masalah ini. Kematian sendiri juga merupakan hal yang rumit bagi para filosof. Pernyataan perpisahan Socrates kepada teman-temannya, `The hour of departure has arrived, and we go our ways--I to die, and you to live. Which is better only God knows.`, ataupun Francois Rabelais seorang penulis cerita Satirikal dengan perkataan yang singkat `I go to seek a great perhaps`. Upacara-upacara kematian dalam berbagai banyak bentuk serta mitologi yang terkait di dalamnya , menjadi hal-hal yang menarik untuk di selami. Serta permasalahan kontemporer yaitu bunuh diri (suicide) dan euthanasia. Dari banyak hal tersebut saya mulai merasakan getar-getar berbeda dengan kematian. Proses pemaknaan kembali kematian dari sesuatu hal yang menakutkan, misterius, penuh tanda tanya, menjadi hal yang romantis. Sehingga di titik tersebut saya bisa memahami mengapa membunuh diri sendiri menjadi suatu hal yang dirasakan sebagai kebutuhan dari mereka yang secara sadar melakukannya. Sejak abad ke 18 hal ini  oleh beberapa orang adalah kematian yang romantis. Gagasan ini kemudian menjadi popular bagi banyak penulis, pelukis dan penyair yang mengagungkan bunuh diri, berpikir bahwa kematian tersebut akan menambah reputasi mereka. Penulis Jerman Johann Wolfgang von Goethe  dalam novelnya  'The Sorrows of Werther' memperkuat konsep ini yang kemudian mengepidemi di Eropa  tentang keromantisan bunuh diri. Beberapa artis yang yang membunuh diri mereka sendiri antara lain, Vincent van Gogh, Virginia Woolf, Anne Sexton, Mark Rothko, Jerzy Kosinski, Ernest Hemingway, and Sylvia Plath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks saya, peristiwa Ben memberikan inspirasi saya untuk menulis tentang kematian itu (dalam bentuk puisi), meredefinisinya (untuk saya secara pribadi) sehingga kematian adalah hal yang berakhir dengan kebahagiaan. (Sebelumnya satu puisi telah saya tuliskan untuk Ben berjudul &lt;a href="http://poemsforfree.blogspot.com/2005/11/mon-cher.html"&gt;Mon Cher&lt;/a&gt; di situs ini : Ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan ; suatu perpisahan -kematian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Kematian adalah keindahan,&lt;br /&gt;Seperti kau yang bergembira menjemput kekasihmu&lt;br /&gt;Sedang dia menunggu di atas bukit teduh cemara&lt;br /&gt;Tangan-tangan terbuka dan senyum pengharapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Kematian adalah kebahagiaan,&lt;br /&gt;Seperti Hod dan Balder yang melengkapkan&lt;br /&gt;Takdir Ragnarok dalam keabadian &lt;br /&gt;Kasih sayang dan pengkhianatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Kematian adalah cinta,&lt;br /&gt;Seperti ibu yang membuka jalan untuk anaknya&lt;br /&gt;Rasa sakit dan penderitaan&lt;br /&gt;Kematian adalah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menulis puisi ini khususnya bait pertama (1), saya teringat kembali beberapa ungkapan pemikir eksistensialisme. Hidup sejati adalah sadar tentang kematian dan menghayatinya dengan kesadaran dan ketegaran, pilihan kedua yang ditawarkan oleh Heidegger. Kemudian Gabriel Marcel yang terkenal dengan harapan mengatakan, kematian sebagai akhir perjalanan manusia dapat diatasi dengan cinta kasih dan kesetiaan, bahwa :`ada Engkau yang tidak dapat mati`. Harapan menerobos kematian, dan adanya harapan menunjukkan bahwa kemenangan kematian adalah semu. Harapan tidak bisa mati. Beberapa hal ini setidaknya bisa memberikan kesegaran dalam diri saya bahwa kesia-kesiaan dalam hidup (proses yang tidak pernah terselesaikan untuk menjadi diri sendiri dan orang lain, selalu berada di antara keduanya) punya jalan keluarnya. Kematian (bunuh diri) bagi saya bukan merupakan bentuk kegagalan atas kesia-kesiaan tersebut namun pilihan yang secara sadar yang dilakukan untuk melepaskan diri dari kesia-kesiaan tersebut, terlepas dari kepercayaan surga, neraka, dan pertanggung jawaban atas hal yang dilakukan di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya hal ini menjadi pertanyaan besar, membiarkan seseorang bunuh diri dengan kesadaran. Kematian menjadi solusi yang indah. Orang tidak akan takut mati namun justru mengagungkannya. Kalaupun tidak bunuh diri, menunggu kematian (dengan akhir apapun; karena sakit, bencana alam, dsb) menjadi proses yang menyenangkan, seperti dua kekasih terpisah , saling berencana dalam pikirannya tentang apa yang akan dilakukan ketika bertemu. Semakin lama tidak berjumpa semakin besar  harapan juga kerinduan yang di pendam dan puncaknya adalah saat pertemuan kebahagiaan itu sendiri. Bukankah itu yang kita cari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi berikut menggambarkan hal di atas; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaca-kaca Bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Dia  ada di depanku,&lt;br /&gt;Terhalang kaca-kaca bening tak terjangkau&lt;br /&gt;Mengikuti setiap langkah, nafas, dan gerak&lt;br /&gt;Bernama sandiwara bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Aku melihatnya,&lt;br /&gt;Sejelas cahaya matahari pagi menyilaukan mataku&lt;br /&gt;Keperkasaan dan kelembutan&lt;br /&gt;Tanpa keraguan dari waktu ke waktu&lt;br /&gt;Aku merasakannya,&lt;br /&gt;Getar-getar keabadian di mata yang tertutup,&lt;br /&gt;Lengan-lengan yang membeku, dan hati yang tak lagi fana&lt;br /&gt;Bersama cerita yang tak terhitung jumlahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Bilakah kau datang padaku?&lt;br /&gt;Menembus kaca-kaca bening,&lt;br /&gt;Membawa anggur yang tak lagi lagi memabukkan&lt;br /&gt;Ranjang-ranjang sutra yang tak lagi menidurkan&lt;br /&gt;Taman-taman yang tak mampu lagi menyejukkan&lt;br /&gt;Kala kekasih merindukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Ah, sungguh aku jatuh cinta padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Tersenyumlah untukku di hari itu,&lt;br /&gt;Kupakai baju terbaikku untuk menyambutmu&lt;br /&gt;Rajutan benang-benang ego, tanpa dendam &lt;br /&gt;Bertabur kancing-kancing putih, penuh ketulusan&lt;br /&gt;Dan motif-motif cinta suci disetiap sisinya&lt;br /&gt;Semoga kau suka, membawaku pergi tanpa malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Walau pertemuan adalah perpisahan&lt;br /&gt;Aku tahu, Kau menungguku&lt;br /&gt;Maka relakan dirinya untuk menjemputku&lt;br /&gt;Karena cinta di antara Kau, aku dan dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur ternyata kematian orang tercinta tidak hanya perlu ditangisi, namun perlu di kontemplasi (dimaknai lebih positif) sehingga tidak ada tangis serta raut kesedihan mengiringi kematian yang ada hanya senyum kemenangan. Saya berharap masih bisa bertemu Ben kalaupun tidak di dunia ini masih ada kesempatan di dunia yang berbeda, dan kematian tidak menjadi penghalang untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Glossary&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hod (mythology) : Juga di eja Hoder atau Hodur, dalam mitologi Norse adalah seorang Dewa yang buta, di asosiasikan dengan malam dan kegelapan. Hod adalah anak dari Ketua para Dewa, Odin dari istrinya bernama Frigg.&lt;br /&gt;Balder (mythology)  : Juga di eja  Baldur atau Baldr, dalam mitologi Norse dia merupakan anak laki-laki kedua dari Odin. Dia merupakan inkarnasi dari kecantikan, keadilan dan kelembutan.&lt;br /&gt;Ragnarok  : Pertempuran di ujung zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;catatan : Ini tulisan lama di tahun 2003. Sekedar untuk dokumentasi dan pengingat. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-114130018931823203?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/114130018931823203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=114130018931823203' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/114130018931823203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/114130018931823203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2006/03/mon-cher.html' title='Mon Cher'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-113225147789365966</id><published>2005-11-18T02:15:00.000+08:00</published><updated>2006-11-15T12:32:15.216+08:00</updated><title type='text'>Who Needs Sleep?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Ok here`s the deal. Ketika aku masih menjadi mahasiswa tahun ketiga seringkali aku terlambat masuk kuliah pagi. Dosen datang tepat pukul 07.15 dan mengakhiri tatap muka tepat pukul 09.15. Biasanya, aku datang tergopoh-gopoh, berlari sekuat tenaga di koridor kampus, berhenti tepat di depan daun pintu, menghembuskan nafas panjang dan masuk dengan sedikit senyum rasa hormat lalu duduk di bagian paling belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari-hari lainnya. Dua jam yang penuh dengan usaha menahan kantuk yang luar biasa. Dan tiba-tiba, aku sudah berada di dalam sacred tribal. Seorang dukun [dosen-red] melafazkan verbal vodoonya di depan kami, lengkap dengan tarian dan lambaian tanganâ€¦.. wghrwah?!`vkuwagw@@*%x?!agaehseh@#$dssgoers*+n#er%ag^teaethet$$heatheshn!!?x .. [ he`s totally mumbling incoherently. I cant tell you the rest of it]. Upacara keramat berakhir ketika sang dukun menutup dengan ucapan saktinya , kita lanjutkan lagi minggu depan [that`s the only words I heard well].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum semuanya. Di luar, teman-teman sudah menyiapkan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Ops, you did it again, congratulation`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`damn, you look so tired`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Hey, your hair mess up!`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nope, I didnt get angry. I was just fine. Aku tahu bagaimana diriku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B E R A N T A K A N. Mata cekung dan merah, bad breath, and smell like a baby prostitute [kebanyakan parfum karena belum sempat mandi].. semua dikarenakan kurang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu banyak tentang perilaku tidur yang `menyimpang` waktu itu. Sebagai mahasiswa, yang aku mengerti adalah bagaimana menyelesaikan tugas berat yang diberikan dosen dan tetap aktif dalam kegiatan kampus. Tidak tidur [tidur-tidur ayam] dan gelisah sampai pagi menjelang adalah hal yang biasa. Tidak ada yang aneh, karena ada begitu banyak hal yang harus dikerjakan [mengerjakan tugas, menyelesaikan skedul kegiatan organisasi]. Meski menjadi lebih emosional, kurang fokus dan gejala stres pada saat mengerjakan aktifitas pagi dan siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku memutuskan memperbaiki pola jam tidur atas beberapa nasihat dari teman. Bantuan mereka terutama mengerjakan tugas secara bersama-sama sangat menghemat waktu, dengan kata lain aku punya kesempatan di malam hari untuk membaringkan tubuhku dan menyelesaikan rutinitas yang bernama `tidur`. Hasilnya mujarab, no more mr sleepy guy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay itu dulu, sekarang semua sudah berubah. Yang berubah adalah aku mengerti bahwa apa yang terjadi di tahun ketiga perkuliahan adalah pengalaman insomnia [Insomnia is difficulty in initiating and/or maintaining sleep. It is a term that is used often to indicate any and all stages and types of sleep loss. Insomnia is not a disorder, it is a symptom ]. Sedikit-sedikit paham bagaimana insomnia bisa muncul dan mengatasinya. Tidak berhenti sampai di sana. Bukan berarti mengetahui cara menghentikan insomnia membuatku berhasil mengenyahkan gejala ini dari hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insomnia menyerang kembali. Dia tidak berwujud rasa takut tugas-tugas yang harus aku selesaikan. Tapi lewat pembicaraan telpon berjam-jam di malam hari. Pembicaraan seputar seks dan berbual-bual semata [kebanyakan memanfaatkan tarif pulsa yang rendah di malam hari]. Kebiasaan ini mengubah jam biologisku secara tidak langsung [ aku harus tidur minimal 6 jam satu hari, jika malam tidak tidur berarti tidur akan digantikan besok pagi, siang atau malamnya]. Terbiasa dengan ini semua membuatku seringkali terjaga. Aku tidak bisa tidur malam hari karena jatah tidur malamku seharusnya di pagi atau siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, jika terbangun malam hari sedangkan besok ada hal penting yang harus kamu hadapi [untuk alasan ini hp terpaksa dimatikan sebelum tidur]. Di saat hening yang pekat, kelopak mata tak mengatup, dan tak ada siaran radio atau tv yang membuatmu mampu kembali terlelap. Apa yang kamu harus lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah melaluinya dan ini sejumlah alternatif [cara yang dikatakan bisa menolong?] mengatasi insomnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;See a Doctor,Take a Warm Bath, Get a Massage, listen to Music, Drink Warm Milk, Drink Herb Tea, Eat a Bedtime Snack, Avoid Caffeine, Alcohol and Tobacco, Sleep in a Well-Ventilated Room, Sleep on a Good Firm Bed, Sleep on Your Back, Get Some Physical Exercise During the Day, Keep Regular Bedtime Hours, If You Can`t Sleep, Get Up, Don`t Sleep In, Get Up Earlier in the Morning, Keep Your Bed a Place for Sleep, Avoid Naps, Avoid Illuminated Bedroom Clocks.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan saat yg tepat membangunkan orang lain karena sulit tidur apalagi mandi air hangat tengah malam. Aku pernah mendengarkan musik dan ini tidak berhasil. Minum susu? Eww I don`t like to drink milk or tea or have some snack at night. Aku tidak banyak merokok dan tidak minum kopi [sekurang-kurangnya beberapa bulan terakhir]. Tempat tidurku cukup luas dan berventilasi bagus. Olahraga? No not now. Menjaga waktu tidur yang teratur? I am !, and bla bla bla. ` Of course there`s the standard technique that everyone knows (although it never worked for us) counting sheep!. ..but I cant sleep still!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpekur diam di tepi ranjang. Segelas air putih dan pikiran yang berlarian. Apakah bisa menyelesaikan esok hari dengan wajar terlebih ada hal-hal yg membuatku harus tetap prima. Bukan pula waktu yang tepat dengan penuh keseriusan memikirkan nama-nama jenis insomnia yang membuat kepala makin pusing..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sleep Onset Insomnia, Idiopathic Insomnia,Psychophysiological Insomnia,Childhood Insomnia , Food Allergy Insomnia, Enviornmental Insomnia, Transient Insomnia, Periodic Insomnia , Altitude Insomnia, Hypnotic-Dependency Insomnia (Hypnotic-Dependent Sleep Disorder),Stimulant-Dependent Sleep Disorder, Alcohol-Dependent Insomnia (Alcohol-Dependent Sleep Disorder), Toxin-Induced Sleep Disorder&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Argghhhhh, aku menyerah!, sepertinya malam ini harus dilewatkan dengan gumaman dan sumpah serapah. Hand Phone kemudian dihidupkan kembali [sempat dimatikan takut menganggu tidur malam] . Mata sempat menyipit menunggu sesuatu. Dan benar, telpon-telpon itu datang lagi. Sempat tidak ingin menjawab tapi akhirnya diangkat. Dengan nada dingin menjawab panggilan. Teman yang biasa berbual-bual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Aku merasa ini bukan waktunya untuk berbicara tentang sex]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada agak sedikit tinggi dan ketus aku menolak tawarannya [adabnya jika kita menerima telpon sebaiknya kita menjawab dengan sopan supaya besok-besok ditelpon lagi]. Tapi tidak untuk kali ini. Dia kelihatannya tersinggung, kemudian balik memarahiku dan dibarengi dengan cacian. Aku tidak kalah panas dengan mematikan telpon segera. Lewat dua menit kemudian dia menelpon kembali. Kuterima `apalagi? Masih belum cukup dengan penghinaanmu?` . Dia terdiam di sana. Aku juga ikut terdiam. Sesaat kemudian dengan suara yang pelan dia meminta maaf. Ya kau tahulah, akhirnya aku memaafkan dia dan tanpa di sangka-sangka itulah awal dari pembicaraan mendalam yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya. Selama ini dia mengajak berbincang perihal seks karena dia berfikir itu bisa membuat dirinya melupakan permasalahan hidup yang dia alami dan dia tidak ingin menyusahkan orang lain dengan pembicaraan serius [even actually I am interrested in such topics, try me]. Jam-jam berikutnya kami habiskan dengan berbicara dari hati kehati, mengupas sisi kehidupan yang perlu dihargai dan dimaknai. Aku bahkan lupa dengan kondisi bahwa aku harus bangun pagi dengan segala tetek bengeknya. Berbicara dengan segala kejujuran ternyata lebih mengasyikkan. Obrolan ditutup dengan helaan panjang dan kami mendapatkan sejumlah hal baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menelpon aku merasa ada dorongan yang kuat untuk menghidupkan komputer dan mulai menulis tentang hal yang baru dapatkan. Menangkap kembali fikiran-fikiran yang berlari kesana kemari untuk diikat dalam simpul yang dinamakan hidup. Simpul yang tidak erat tapi kuat, meski longgar tapi tidak terberai. Ternyata dunia memang tidak hanya menyusun jadwal teratur dari tidur menuju tidur kembali. Tapi ada hidup yang harus dibaca dengan tersirat. Aku merasa ini waktu yang tepat , waktu dimana emosionalku meningkat dan terkadang kelelahan yang memuncak, waktu yang diberi nama insomnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya aku mulai menyesuaikan kembali jam biologisku di hari-hari kedepan dengan mengikuti apa yang tertulis dibuku-buku mengenai hal ini. Apabila waktu insomnia datang, aku tidak lagi pusing memikirkan cara tidur yang terbaik. Ini momennya buatku untuk lebih jujur. Saat yang mesti harus aku syukuri. Mungkin tidak ada perbincangan via telpon lagi seperti dulu, tapi ada isi kepalaku yang akan berbicara melalui kata-kata yang mungkin kamu baca saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-113225147789365966?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/113225147789365966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=113225147789365966' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113225147789365966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113225147789365966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2005/11/who-needs-sleep_18.html' title='Who Needs Sleep?'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-113138932758311214</id><published>2005-11-08T00:18:00.001+08:00</published><updated>2005-11-13T20:13:14.450+08:00</updated><title type='text'>`Short Men of the world unite!`</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://img432.imageshack.us/img432/4691/wahh1ku.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 124px; CURSOR: hand; HEIGHT: 217px" height="346" alt="" src="http://img432.imageshack.us/img432/4691/wahh1ku.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Minggu pagi di bulan Juni seorang penyiar radio berbasis perempuan dengan bersemangat menyerukan topik yang akan dibahas selama satu jam kedepan `apakah kamu [perempuan] akan memilih lelaki yang lebih pendek, sama, atau lebih tinggi sebagai pacar kamu ?[bahkan sebagai calon suami yang layak]!`, Penelpon pertama memberi komentarnya, `aku suka yang lebih tinggi , karena laki-laki kan pelindung perempuan, nyaman aja rasanya jalan bareng ama mereka`, penelpon kedua beretorika `Ga banget gitu loh punya pacar pendek, ntar gimana anak-anaknya?, kasian banget kan`, penelpon ketiga melanjutkan`aku suka cowok tinggi karena semua saudara perempuanku menikah dengan cowok yang lebih tinggi, malu kan kalau dapet yg pendek`, penelpon ke empat menjawab `gue sih mikirnya gimana kalau pas ciuman, masa cewek harus nundukin kepalanya, ga lucu dong`, penelpon ke lima menambahkan `sebenarnya sih ga masalah dapet pendek atau tinggi penting hatinya baek, tapi kalau aku sih kalau bisa milih pengen dapet yang tinggi`. Penelpon yang lain kurang lebih sama jawabannya, yang berbeda hanya tertawa cekikikan khas perempuan dan bercanda yang keterlaluan...[sigh] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bisa diprediksi bahwa mereka yang menelpon adalah gadis-gadis dengan senyum yang lebar, membawa seorang laki-laki yang `tinggi` di Mall, bergandeng tangan dan seolah-olah berkata `Look, aren`t I special, I have a tall guy!` &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mungkin kamu para pria lajang [ataupun sudah menikah] yang `pendek` cukup panas hati kalau mendengarkan bincang pagi di radio tersebut sampai dengan selesai. Why is that? Kenapa masalah tinggi badan pasangannya menjadi hal penting bagi para perempuan? Apakah sesuatu hal yang sangat memalukan punya pasangan pendek? Emang kalau laki-lakinya lebih tinggi kepuasan dalam hal material, biologis dan sprituil lebih terjamin?! Okay okay calm down dude, I`ll be brutally honest and say that it looks real bad for short men. Akupun harus mengakui bahwa aku cukup bersinggungan dengan topik ini. Aku sendiri tingginya cuma 164 cm huhuhu [hey! I am with you men! Put me down in line!] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memang ukuran `tinggi`badan itu relatif. Jika perempuannya lebih pendek, katakanlah dibawah 160 cm, maka semua laki-laki yang tingginya 161 cm ke atas dikatakan tinggi. Standarnya hanya semua orang yang lebih tinggi dari kita 1 cm ke atas dst maka bisa dikatakan `tinggi`. Selain itu ada ukuran tinggi relatif, di Indonesia misalnya 170 cm sudah dianggap tinggi untuk laki-laki [tinggi rata-rata orang Indonesia 165 cm] sedangkan di negara Eropa atau Amerika Utara tinggi laki-laki 6 feet atau sekitar 180 cm . Tapi yang menjadi permasalahan mengapa perempuan cenderung memilih lelaki yang lebih tinggi dan tidak lebih pendek dari mereka?Menilik dari jawaban para gadis di radio perempuan tadi sekurang-kurangnya ada dua hal yang menjadi alasan utama yaitu, biologis dan kultural. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Alasan perempuan memilih laki-laki yang `tinggi`karena perempuan menginginkan keturunan mereka lebih baik terutama dalam hal tinggi badan [di keluargaku tidak ada yang lebih pendek dari Ibu, ayah sendiri jauh lebih `tinggi`dari Ibu] Dalam banyak kasus hal ini bisa dipercayai namun tidak lepas dari seberapa besar perhatian orang tua memberikan gizi yang cukup agar tumbuh kembang anak sempurna. Perempuan juga memiliki kondisi fisik yang berbeda dengan laki-laki. Bentuk tulang pinggul dan dada perempuan secara biologis berbeda. Ukuran tubuh lain pun lazimnya lebih besar laki-laki dibandingkan perempuan. Bukan rahasia jika perempuan ingin dilindungi, tidak hanya terlindung dalam pangan dan papan tapi secara fisik. Jika tubuh lelaki lebih tinggi maka perempuan bisa dipeluk secara penuh dan memberikan rasa kenyamanan dan perlindungan secara utuh. Dengan kata lain perempuan adalah makhluk yang lemah dan mereka mendambakan lelaki yang tinggi yang selalu bisa diandalkan dan dipercayai dan membantu meningkatkan rasa percaya diri perempuan. Tinggi badan menjadi pemandu bagi fokus yang dituju perempuan , yaitu gen, kesejahteraan dan status. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Alasan lainnya adalah alasan kultural. Alasan ini sebenarnya hal yang paling kuat menjelaskan kenapa perempuan memilih pasangan lebih tinggi dari mereka. Sterotip bahwa laki-laki yang lebih tinggi akan mampu memuaskan para perempuannya baik secara biologis maupun afeksi menjadi makanan kita sehari-hari. Hal ini diperkuat dan diinternalisasikan dalam banyak media cetak dan elektronik. Dari komik, koran, tabloid, majalah, sampai ke sinetron, film televisi, dan layar lebar. Semuanya memuja hubungan pasangan `normal`dengan rumus`pilihlah laki-laki yang lebih tinggi kalau kamu ingin bahagia`. Hampir semua komik baik Jepang atau Barat dengan embel-embel serial cantik atau petualangan mematok lelaki tinggi sebagai simbol keromantisan dan kejantanan [pernik lain seperti model rambut, model baju celana, kurus atau berotot berubah-ubah sesuai zaman tetapi `tinggi`bertahan diatas semuanya] termasuk cerita legenda-legenda di Indonesia. Banyak iklan memperlihatkan pasangan bahagia adalah pasangan yang `normal`tadi. Kalau ada pasangan yg laki-lakinya lebih pendek biasanya hanya untuk konsumsi lelucon atau dagelan semata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sinetron populer, film televisi yang mengharu biru atau film layar lebar yang box-office setali tiga uang. Tidak perlu jauh-jauh, sebut saja sinetron rumah produksi keluarga Punjabi, Sinema Art, dll dari yang romantis sampai sinetron laga bertaburan bintang-bintang seperti Primus, Anjasmara, Ari wibowo, Teuku Ryan, Revaldo, Sandy Syarif, Jonathan Frizzy, Zumi Zola, Syahrul Gunawan dll yang membuat Agnes Monica, Febi Febiola, Titi Kamal, Jihan Fahirah, Lulu Tobing, Marshanda, Masayu serta sederetan nama lainnya terlihat jadi `pendek`. Tidak cukup dengan itu serbuan laki-laki muda, `tinggi`, dan tampan masuk ke film-film sebagai aktor yang menjanjikan [membuat film laku dipasaran]. Nicholas Saputra vs Dian Sastro, samuel Rizal vs Shandy Aulia, Tora Sudiro vs Cut Mini, Marcell &amp;amp; Delon vs Rachel Maryam, Marcel Chandrawinata, bla bla bla. Atau kalau mau Jadul-jadulan, sebut saja zaman keemasan Rano Karno dengan Yessy Gusman, Sophan Sophian dan WidyaWati, RoyMarten , Benyamin S dan Ida Royani, Susana and her partners (semuanya laki-laki `tinggi`tegap berotot !) . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;It`s all about La La Landculture , Masih ingat princess diary? Mia yang bermimpi tentang `foot-popping` kiss dari teman sekolahnya , Josh Bryant. (that`s a kiss so good that it makes your foot pop up) . Ciuman yang di impi-impikan para gadis bisa berciuman dengan lelaki yang lebih tinggi. How sweet! Banyak imajinasi perempuan dengan pria tinggi, seperti dalam film-film yang mereka tonton. Mengendap hingga ke dasar.Ada beberapa film seperti The Hunchback of Notre Dame, happy ending memang, cuma kisah percintaan si bongkok gagal total. Film-film Dany Devito si kecil yang brilian, well kebanyakan semi komedi. Film Indonesia pun semisal si Ateng tidak kalah jauh, film-filmnya kebanyakan mengundang banyak gelak tawa [apalagi film-film Dono Kasino Indro : cewek-cewek cantik tinggi sekedar figuran mempertontonkan dada dan bokong yang besar ] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di indonesia kisah ini bermetamorfosis menjadi si Cantik dan si Buruk rupa yang memadankan Dini `sweety`Aminarty dan Andrew `beast`White namun tetap saja si jelek bongkok tinggi besar. masih di stasiun TV yang sama, sikembar Joni (Ucok baba) dan Jono (Primus) yang akhirnya kita tahu kalau si Jono [sesuai dengan tuntutan skenario] yang memenangkan hatinya si Sophia Latjuba mengalahkan saudaranya Joni yang kecil mungil [dengan terpaksa menjadi orang jahat]. Idenya menjadi dua garis besar, lelaki pendek hanya dicintai jikalau dia benar-benar super aneh tapi extra ordinary dan `kaya`, kedua dicintai tapi kemudian diketahui si pendek seorang bajingan, berhati busuk lalu di campakkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mungkin jika aktor-aktor lebih pendek dari pasangannya di film akan menjadi lebih complicated atau menjadi sangat lucu? Bayangkan jika Dian sastro lebih tinggi dari Nicholas Saputra, ciuman penutup di film Ada apa Dengan Cinta akan menjadi tontonan yang lucu atau? Andaikan Leonardo di Caprio lebih pendek dari Kate Winslet, kira-kira adegan `terbang` mereka di pagar pembatas ujung kapal akan menjadi romantis atau malah tragis [jatuh ke laut]? Hal-hal semacam ini justru lebih layak menjadi adegan komedi dibanding suatu hal yang dianggap serius. Keseriusan menuntut aktor-aktor lebih tinggi dari pasangannya! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sedikit sekali film yang bercerita tentang perempuan yang mencintai lelaki `pendek`yang deep and full of passion. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekarang menjadi tinggi adalah hal yang diimpi-impikan. Kamu harus minimal 170 cm untuk bisa mengikuti kompetisi Kosmomen dan majalah Men`s Health [tinggi = sehat?], what the heck!!?? Jika kamu tingginya 170 cm ke atas kamu boleh ngedaftarin diri kamu di ajang lomba Boy Band [tinggi=keren?] what next? Beberapa perusahaan dengan tegas dan ketat menseleksi tinggi badan para pekerjanya dengan alasan tertentu [terutama berkaitan dengan costumer service] tidak termasuk usaha pemerintah menstandarisasi ukuran tinggi badan bagi laki-laki yang berminat menjadi abdi negara melalui angkatan bersenjata Republik Indonesia. Sepertinya penderitaan `short` men semakin menjadi jadi, well let say it feels like when fairy GodMother says to Shrek `No No No No, [short men] dont live happily ever after!` &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hal ini juga yang mendorong untuk membentuk opini publik bahwa menjadi tinggi adalah penuh dengan kepercayaan diri. Beberapa acara TV yang menjual barang-barang dagangannya secara langsung yang kedengaran seperti pil penyembuh semua penyakit menawarkan alat peninggi badan, obat peninggi badan dengan jaminan setelah anda akan tinggi anda akan mampu meraih semua cita-cita yang anda inginkan, sounds weird huh. Tapi banyak juga laki-laki yang tergoda dan mencobanya atau sekedar keinginan bagaimana hasilnya? Tanyakan saja pada mereka yang sudah membeli. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Okay lalu sebenarnya apa yang kami inginkan? Faktanya kami memang `pendek`, banyak dari kami yang tertolak untuk mendapatkan pekerjaan atau bahkan cinta karenanya. Kami juga muak dengan ikon-ikon sempurna dari pencitraan di media cetak dan elektronik. Orang-orang yang bisa mencintai kami pun sepertinya hanya mereka yang sudah mengikuti kelas kepribadian dengan bahasan `dont judge someone by his height` . Kami sadar bahwa sebenarnya menyukai dan disukai adalah hal yang manis. Cinta tumbuh dengan sendirinya tidak dibuat-buat. Kami mengakui bahwa setiap kita memiliki ketertarikan yang berbeda, seperti halnya juga banyak dari lelaki lebih memilih perempuan cantik and you know most girls are crazy about tall men. Jadi kami tidak bisa mengatakan bahwa para perempuan telah melakukan diskriminasi pada lelaki `pendek`. Namun jika cinta terhalang oleh hal-hal picik yang dihasilkan dari cerminan masyarakat yang kapitalis maka kami akan mengutuknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;`Short men need love, too, and it`s getting worse`Kami berhak untuk menjelaskan bahwa kami patut dicintai dan kami yang penuh kekurangan sangat menghargai apa yang kami dapatkan dan kami bisa lebih baik dari sekedar standar yang menyesatkan. Jadi sebelum muncul ungkapan `short men phobia`lebih baik pola relasi seperti di atas diperbaiki atau kalau tidak akan ada kelompok `short men` yang menuntut persamaan hak di muka bumi . Hehehe hey I am serious! ^_^&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;catatan : &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;*. Ada beberapa alasan mengapa laki-laki `pendek`memilih pasangan lebih tinggi. Pertama alasan cinta, cinta mengalir begitu saja tanpa memandang tinggi badan, tinggalkan masalah cinta. Kedua, kebanggaan, laki-laki sangat bangga jika memiliki pendamping yang lebih tinggi yang bisa mereka pamer-pamerkan kepada rekan-rekannya [tanda ketidak percayaan diri dan menjadikan perempuan sebagai alat menutupi hal tersebut? termasuk memperbaiki keturunan ], ketiga , menikahi perempuan tinggi menjamin kesejahteraan [kebetulan perempuan itu kaya raya], keempat faktor x, keberuntungan semata dengan cara perjodohan yang sudah ditentukan oleh orangtua dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;*. kata tinggi dan pendek diberi tanda kutip untuk menunjukkan kerelatifan. kamu bisa jadi `pendek` walau tinggi badan kamu 180 cm karena perempuan yang kamu suka tingginya 185 cm&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-113138932758311214?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/113138932758311214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=113138932758311214' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113138932758311214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113138932758311214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2005/11/short-men-of-world-unite_07.html' title='`Short Men of the world unite!`'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-113125895522622762</id><published>2005-11-06T14:31:00.000+08:00</published><updated>2005-12-10T08:52:06.620+08:00</updated><title type='text'>Old Mamas</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://img466.imageshack.us/img466/3451/momm9wt.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 163px; CURSOR: hand; HEIGHT: 146px" height="178" alt="" src="http://img466.imageshack.us/img466/3451/momm9wt.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Aku seringkali bertengkar dengan ibu di masa lalu. Bagiku ibu selayak diktator yang selalu memerintah ini dan itu ketika pada saat yang sama aku ingin menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan yang aku pikir belum saatnya aku harus melakukan itu semua. Kebetulan keluarga kami memiliki sebuah warung kecil. Aku sejak usia belasan tahun harus siap untuk menjaga warung terlebih seusai pulang sekolah. Jarang sekali sore hari dipergunakan untuk ekstrakurikuler &lt;/span&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;postID=113125895522622762#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; . Pernah sekali waktu aku pulang terlambat atau dengan diam-diam sehabis pulang sekolah bermain ke rumah teman. Di rumah, ibu sudah menunggu dan memarahiku habis-habisan dan mengatakan bahwa aku seorang anak yang tidak mengerti kondisi. Aku terkadang menangis sendirian setelahnya. Ingin lari dari rumah adalah ide yang selalu aku dengungkan dalam hati namun dalam kenyataannya tidak pernah aku lakukan. Seringkali berharap kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saja karena aku merasa lelah. Aku merasa seperti Hannah [dengan spektrum berbeda, berwujud anak laki-laki] dalam `Sula` yang bertanya pada ibunya Eva apakah dia mencintainya. Eva menjawab dengan penuh kebencian `kau ada disini dengan sehat dan kau bertanya apakah aku mencintaimu? mata besar di kepala mu akan menjadi dua lubang penuh dengan belatung jika aku tidak mencintaimu.`&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagai seorang anak aku tumbuh. Tumbuh dalam dunia yang begitu rapuh. Seperti penjara dengan sipir yang mengatur tiap gerak-gerik. Ibu yang jarang tersenyum dan suaranya yang menggelegar memarahi jika tidak mendengar panggilannya. Ia seperti memiliki mata yang selalu mengetahui keberadaan diriku. Ikon keluarga bahagia yang melekat di kaleng-kaleng margarin atau biskuit [yang setiap hari aku lihat di masa-masa menjadi penjaga warung], dimana ibu menciumi anak-anaknya, membiarkan mereka bermain di waktu luang dan hari libur, memberikan kue di hari Raya dengan senyum dan kegembiraan terkadang hanya suatu hal yang sulit untuk didapatkan. Mungkin sedikit egois karena aku tidak pernah memandang bagaimana ibu mencuci, menyeterika atau memberi uang jajan sebagai hal yang patut aku pertimbangkan. Cinta ditafsirkan dalam bentuk kemampuan menyekolahkan anak-anak atau menempa mereka menjadi seorang pribadi yang kuat dan tahan banting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Episode lain ketika aku tumbuh remaja adalah menghadapi pertengkaran bapak dengan ibuku. Aku sebagai anaknya berada diposisi yang dilematis. Bapakku berselingkuh dengan perempuan yang lebih muda dan membuat ibuku selalu saja naik pitam setiap kali kami melakukan kesalahan. Beliau menghubung-hubungkannya dengan kesialan yang dia terima. Aku menjadi semakin bersalah&lt;/span&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;amp;postID=113125895522622762#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Kadang-kadang aku dilibatkan di dalamnya. Hubungan ayah dengan ibu semakin memburuk terlebih urusan dengan kekasih gelap ayah yang membuat tetangga bergunjing dan membuat ibuku frustasi. Belum cukup dengan itu semua, ibu tertimpa musibah. Ibu jatuh dari angkot di tikungan dekat rumah saat pulang membeli barang dagangan untuk warung. Kecelakaan yang merenggut wajah ibu yang anggun. Beberapa jahitan dan perubahan bentuk hidung karena tulang dibagian dalam yang pecah dan beberapa serpihannya dikuatirkan akan mengganggu sistem pernafasan. Rumah menjadi demikian lebam dan suram karena ibu menjadi pemurung dan suka marah-marah. Kami anak-anaknya sering bertengkar dengan ibu jikalau dia sudah terlalu &lt;em&gt;strict&lt;/em&gt; dan menganggap kami berpihak pada ayah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku semakin tidak berdaya. Kehilangan figur ayah adalah hal yang biasa dalam rumah yang pecah. Ibu mencoba bertindak sebagai &lt;em&gt;female-headed&lt;/em&gt; dengan menginternalisasikan nilai-nilai yang dia anggap baik dengan cara yang terkadang membuat kami merasa dikungkung. Ibu selalu memaksa kami untuk belajar di saat senggang. Untungnya hal itu bisa aku imbangi dengan prestasi di sekolah. Aku bukan seorang yang populer di antara rekan sebaya hanya seorang remaja gemuk yang di dalam hatinya selalu ingin keluar dari kota kecil ini untuk mendapatkan kebebasan yang dia inginkan. Seperti layaknya kepompong yang ingin menjadi kupu-kupu. Bebas terbang kemana-mana setelah sekian lama dalam sarung kulit kecil yang menyiksa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah menamatkan SMU, beruntung aku mendapatkan kursi gratis berkuliah di tempat yang jauh dari orangtua. Selain untuk mencoba mandiri juga jenuh dengan keadaan rumah. Aku merasa semakin dekat dengan kebebasan itu. Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun berikutnya aku mensyukuri kebebasan ini [Aku menjadi lebih percaya diri di tempat yang baru. Melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. Begitu menghargai tiap kesempatan yang datang karena tidak akan datang dua kali]. Tidak hanya bisa keluar dari kejenuhan di rumah namun menjadi proses yang bermanfaat. Jelas saja hubungan dengan keluarga ketika jauh hanya bisa dilakukan dengan sarana surat menyurat atau melalui telepon. Ibu perlahan-lahan menjadi seorang yang demikian sabar. Hanya kalimat-kalimat yang baik saja yang keluar ketika sedang berbicara dengan dia di telepon atau di surat yang iia kirimkan. Sekali dalam satu tahun aku pulang untuk berhari Raya, Ibu menjelma menjadi peri baik hati yang aku impi-impikan. Aku baru tahu bahwa betapa ibu merasa kehilangan ketika satu demi satu anaknya berpindah ke kota lain untuk belajar namun dirinya selalu saja sepertinya bisa menepis rasa itu dan kami hanya tutup mulut untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kami berjalan dalam hidup kami sendiri-sendiri, kami tahu separuh dari tugas ibu telah&lt;/span&gt;&lt;a href="http://img475.imageshack.us/img475/340/arm5ld.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand" height="197" alt="" src="http://img475.imageshack.us/img475/340/arm5ld.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; selesai. Membimbing kami hingga bisa menamatkan sekolah pada jenjang yang tertinggi agar kami tidak mudah patah dan direndahkan oleh orang lain [ibu bersekolah sampai kelas tiga SD]. Proses kemandirian ternyata menjadi proses penyembuhan bagi kami semua. Kami belajar bahwa sebenarnya hidup memang tidak seperti jalan tol yang lurus. Ujian-ujian yang datang akan membuat kami menjadi tidak mudah goyah. Aku sendiri bersyukur dengan tempaan masa kecil dan banyak peristiwa yang menyadarkanku bahwa keluarga [khususnya ibu] menjadi tempat motivasiku yang terbaik. Jika tidak karena ingin bebas dan punya kemauan kuat mungkin aku tetap di sangkar tua yang tidak berani memutuskan hal terbesar dalam hidup yang akan merubah nasibku. Rasa tidak adil karena menginginkan &lt;em&gt;sweet valley high relationship&lt;/em&gt; dengan ibu di waktu kecil berganti dengan rasa salut buat ibu yang telah memberikan hidupnya hanya untuk kami&lt;/span&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;postID=113125895522622762#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, anak-anaknya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin banyak diantara kita memiliki hubungan yang tidak begitu harmonis dengan ibu. Namun ketika jarak dan usia semakin merentang kita belajar banyak dari hidup. Jika ada yang mengatakan bahwa surga di telapak kaki ibu aku akan selalu membenarkannya. Ibu seperti mutiara yang tersimpan dalam cangkang yang keras dan terlihat kaku. Terkadang sifatnya yang tegas dimasa lalu hanya bisa kita pahami kelembutan hati dan manfaatnya ketika kita beranjak dewasa dan semakin jauh darinya. Karenanya kita dengan bangga menjadi putra-putrinya. Kita sadar bahwa ibu adalah segalanya buat kita, dan juga untukku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selamat Ulang Tahun Ibu yang ke lima puluh lima, seberapa besarpun yang ananda berikan tidak akan mampu membalas kasih sayangmu!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc6600;"&gt;Catatan : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;amp;postID=113125895522622762#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Kami punya warung kecil kelontongan untuk menyambung hidup. Menjaganya bergantian. Jika kami sekolah Ibu akan menjaganya, mulai dari membuka sampai nanti pukul dua siang hingga kami selesai makan siang dan ibu beristirahat. Dari 5 bersaudara hanya aku, kakak perempuan nomer dua dan abangku yang bergantian membantu ibu. Aku sendiri saat itu masih berumur belasan tahun , untuk selama enam tahun sedikit sekali waktu luang untuk bermain selebihnya dihabiskan untuk membantu menjaga warung kecil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;postID=113125895522622762#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Pada umur 13 tahun aku mengalami kecelakaan. Saat membonceng adekku dari pasar membeli ikan hias kami ditubruk angkot dari belakang. Peristiwa yang naas yang membuat aku patah kaki dan adekku mendapat luka dibagian dalam tubuhnya.. Genap dua bulan aku berlatih berjalan dan pada saat itulah kejadian terburuk menimpa diriku hingga berbekas sampai saat ini. Aku jatuh saat menggunakan tongkat penyangga dan membuat kakiku patah untuk kedua kalinya. Ayahku marah besar dan menuduh ibuku sebagai penyebabnya. Ayahku benar bahwa aku mungkin akan cacat , saat ini kaki kananku lebih kecil dari yang sebelah kiri karena tulang dibagian paha membengkok ke atas sedikit dan membuat tulang tempurung lutut berbelok ke arah dalam semakin aku menginjak dewasa, dengan kata lain aku pincang. Saat ayah dan ibuku bertengkar waktu itu aku merasa makin tersudutkan, sepertinya aku akan menjadi beban buat mereka. Ibu menangis di pembaringanku saat aku pura-pura tertidur, ia berdoa agar diriku menjadi yang terbaik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=18388380&amp;amp;postID=113125895522622762#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Tahun-tahun belakangan hubungan ayah dan ibu semakin membaik. Keadaan ekonomi keluarga tidak lagi seperti dulu. Warung kecil yang dulu sebagai mata pencaharian hidup sudah tidak lagi difungsikan. Ibu membantu ayah di yayasan pendidikan yang ayah bentuk sebagai pembuat minuman dan kue untuk tenaga pengajar dengan imbalan yang layak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#9999ff;"&gt;Images : www.nataliedee.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-113125895522622762?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/113125895522622762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=113125895522622762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113125895522622762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113125895522622762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2005/11/old-mamas.html' title='Old Mamas'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-113048894981450498</id><published>2005-10-28T16:40:00.000+08:00</published><updated>2006-03-01T14:45:02.843+08:00</updated><title type='text'>Pathetic Loner?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://img205.imageshack.us/img205/5156/boyy1jr.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 123px; CURSOR: hand; HEIGHT: 142px" height="141" alt="" src="http://img205.imageshack.us/img205/5156/boyy1jr.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sepanjang hidupku [setidaknya dalam dua tahun terakhir], aku selalu dihadapkan pada malam-malam yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Suatu kali pernah terfikir, bagaimana kalau menghabiskan malam ini di sebuah kafe, menikmati bergelas gelas kopi dan alunan Top 40 secara live sampai malam demikian larut. Bisa jadi selama itu pula akan ada sejumlah kejutan yang akan didapatkan , eye contact dengan sejumlah orang yang completely stranger yang terkadang bisa membuat hati ketar ketir atau bahkan tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Tapi terlepas dari itu semua, kita tetap mendapatkan kenyataan bahwa kafe adalah tempat di mana orang-orang menghabiskan waktunya untuk urusan apapun. Begitu banyak wajah dengan mimik ataupun cerita cerita yang selalu baru yang tertangkap oleh mata atau telinga. Setidaknya tidak akan rasa sepi yang menyergap karena terlalu disibukkan dengan urusan visual.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya memang pada suatu kali aku mencoba untuk melakukannya. Tempat tinggalku (sebuah kamar dengan ukuran 3 x 3 m) tidak begitu jauh dari beberapa kafe yang bisa memberikan sejumlah kemungkinan [yang menyenangkan] seperti tadi. Kafe dengan sejumlah meja kursi yang tertata rapi dengan lampion-lampion di atasnya. Suasana temaram yang hadir seolah mengatakan bahwa setiap pengunjung punya urusan masing-masing dan dalam keremangan mereka bebas untuk melakukan apa saja tanpa terganggu oleh pengunjung yang lainnya. Di sudut lain dari kafe ada sejumlah orang yang memainkan beberapa musik latin [pihak manajemen kafe memberikan sejumlah penawaran dengan memberikan sentuhan di setiap harinya. Ada permainan musik dengan citarasa yang berbeda pula]. Ada beberapa tempat yang menjadi fave-ku jika masuk ke tempat hiburan. Tempat di sudut ataupun setidaknya tempat yang terhalang oleh banyak orang sehingga aku bukan menjadi center of attention. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Duduk di pojok dan pesanan datang seperti yang direncanakan, segelas kopi yang tidak terlalu pahit atau manis. Waktu berjalan, orang-orang berlalu lalang, lagu-lagu hits telah dihabiskan. Dan apa yang kudapatkan? Pusing kepala dan kesepian.Orang-orang yang datang dan pergi memang membawa hal-hal yang tidak terduga. Ada wajah-wajah gembira, sendu ataupun kesedihan. Ada tawa cekikikan atapun tawa yang tertahan. Ada mata-mata yang sekilas mampir di mata atau yang tidak sama sekali. Semuanya diaduk menjadi satu dalam kepala. Satu kali ekor mata terpaut dengan sepasang perempuan dan lelaki yang berwajah tampan dan cantik. Sepertinya hubungan keduanya berjalan lancar. Lalu ada lelaki yang berwajah yang biasa saja dengan wanita berwajah kebanyakan. Ya dan lagi-lagi sepertinya hubungan mereka baik-baik saja. Sampai serombongan gadis yang datang dan nampaknya bangga dengan status mereka. Bisa jadi mereka bercerita dan bergosip. Tentang apa saja. Ada juga dua lelaki yang kelihatannya dua orang sahbat datang dengan wajah datar. Sebatang rokok selalu terselip dan asap berputar di kepala mereka. Selalu begitu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada masalah dengan mereka [setidaknya begitu] yang menjadi masalah adalah diriku. Ketika pengalaman di luar sana bersatu dengan perasaaan dan logika dalam kepala.. Perasaan keterasingan muncul. Keterasingan dalam jaring-jaring hidup yang begitu dekat dengan kita tapi tak terjangkau [seperti kolase dan montase yang datang silih berganti yang menawarkan banyak ragam bentuk, warna dan cerita dibaliknya] . Ada sejumlah konsep kebahagiaan dan kebanggaan yang beradu dengan kekalahan atau kesedihan yang kita miliki. Selalu mencoba untuk menyatukan pengalaman dengan proses mencari hikmah. Setidaknya selalu saja seperti itu ketika berada dalam kesendirian di tengah keramaian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja aku tidak menyukainya. Tujuan awal sebenarnya hanya untuk memperhatikan orang-orang di luar sana atau mengisi malam sebagai orang yang merdeka [tidak usah repot-repot mengajak teman untuk menikmati malam] Namun akhirnya terjebak pada penjustifikasian diri , merasa diri lebih baik atau jelek dibandingkan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Seharusnya aku membawa pensil dan sesobek kertas lain waktu]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada malam yang lain seorang teman [sebut saja D] mengajak untuk menemaninya sekedar menghabiskan malam di kafe tenda atau warung kopi lesehan yang memang selalu bertebaran di trotoar kota ini ketika senja berlalu. Saatnya bagiku untuk membawa pensil dan sesobek kertas [siapa tahu ini dibutuhkan ] . Ada beberapa orang saat itu di sebuah warung kopi lesehan yang kami pilih. Dan seperti ritual di warung kopi , beberapa penganan di atas meja. Kacang, asbak, dan kemudian datang segelas kopi . Kami duduk di bawah langit terbuka. Angin cukup kencang, menusuk tulang meski jaket yang dipakai sudah cukup tebal. Dia memulai pembicaraan [inilah saatnya] tentang hal-hal yang ringan. Sesekali sudut mataku memperhatikan beberapa orang yang datang. Kebanyakan mereka datang berpasangan namun ada juga yang datang sendirian. Tapi ini bukan malam kemerdekaan seperti yang dulu. D selalu menawarkan sejumlah pertanyaan yang ya sebagai seorang teman harus kujawab baik itu cuma basa-basi atau pun penuh pertimbangan. Sampai akhirnya aku larut dalam percakapan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[ternyata pensil dan kertas tidak bermanfaat ]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan di akhiri setelah pukul satu. Apa yang kudapatkan? perbincangan yang cukup lama. Dan kali ini aku tidak lagi di hadapan jaring-jaring kehidupan di mana aku bebas memilih untuk menjadi sentimentil atau pompous scum? Tapi aku masuk ke dalam salah satu jaringnya dimana aku tidak punya banyak pilihan. Ini proses yang tidak menyenangkan di mana kau harus [katakanlah] mengalah atau membatasi dirimu pada sejumlah opsi [ternyata aku merindukan saat-saat sendiri di kafe yang temaram]. Sebelum pulang masih sempat kulihat ada seorang lelaki yang menyeduh kopinya sendiri. Matanya menyapu orang-orang yang ada disekitarnya. Dia sudah ada sebelum kami datang. Mungkin dia menikmati seperti apa yang kupikirkan. Menikmati kesendirian di tengah keramaian. Mungkin dia menjadi lebih hidup karenanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#cc66cc;"&gt;Images : www.nataliedee.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-113048894981450498?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/113048894981450498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=113048894981450498' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113048894981450498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113048894981450498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2005/10/pathetic-loner.html' title='Pathetic Loner?'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18388380.post-113048874992361739</id><published>2005-10-28T16:35:00.000+08:00</published><updated>2005-11-06T15:50:22.490+08:00</updated><title type='text'>Money Is Badly Needed</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://img478.imageshack.us/img478/3086/stretch3pc.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 105px; CURSOR: hand; HEIGHT: 167px" height="321" alt="" src="http://img478.imageshack.us/img478/3086/stretch3pc.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku mengenal lelaki kecil ini beberapa tahun yang lalu. Namanya Andri, nama yang cukup gaul untuk seorang lelaki kecil dengan umur enam belas tahun dengan kulit sawo matang. Tingginya tidak lebih dari seratus lima puluh sentimeter dengan perawakan kurus . Sejumlah titik hitam berbekas nyata di telinganya termasuk bibir yang gelap yang selalu menyemburkan asap rokok.&lt;br /&gt;Dia bisa kau temui di beberapa perempatan dan pertigaan lampu merah atau di beberapa tempat di mana angkotan umum mangkal untuk mencari penumpang di pusat kota. Gitar kecil selalu di tenteng kadang-kadang cuma botol gallon Aqua yang di pukul dengan ritme tertentu untuk bisa menimbulkan bunyi. Sekali waktu dia bisa bersama teman-temannya tapi di lain kali dia berjalan sendiri. Melanjutkan hidup dengan mengandalkan uang recehan dari para pengemudi kendaraan roda empat untuk musik yang dia mainkan. Ya, Andri kecil adalah seorang pengamen jalanan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan kami yang pertama adalah di suatu kelas sore yang ramai. Waktu itu dia masih kelas empat SD. Aku adalah seorang pembimbing kelas yang baru. Memberikan sejumlah pelajaran berhitung dan pelajaran agama, membaca Al Qur’an. Seperti anak-anak laki lainnya. Andri cukup nakal. Sering mengganggu teman perempuan sampai menangis. Dia tidak sendiri tapi bersama temannya, Zulkifli. Sebagai pembimbing yang mencoba untuk sabar aku berkali kali memberikan bentuk hukuman yang pantas, mencubit, menjewer atau kalau sudah demikian kesal menggebrak meja. Bukan suatu hal yang mudah untuk mengendalikan mereka. Adakalanya rasa lelah muncul. Ini pekerjaan yang benar-benar luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada hal-hal yang membuat aku bertahan. Pertama adalah ketika memandang wajah terutama mata mereka. Mata yang demikian tulus, yang tidak berbohong tentang diri mereka. Menyaksikan pantulan wajahku di mata mereka dan senyum tulus yang mengembang dari sudut bibir teman-teman kecil adalah kebahagiaan tersendiri. Terlebih ketika paham dan sadar bahwa mereka adalah adik-adik yang serba kekurangan. Tidak cuma satu atau dua yang hidup melarat tapi hampir semuanya. Andri sendiri hidup di atas bantaran kali Brantas yang membelah kota ini. Bersama Zulkifli yang menjadi tetangga, rumah [lebih pantas di sebut gubug] mereka cuma sekedar tripleks dan kardus. Tidak berlantai keramik hanya bumi. Beberapa karung goni yang dipergunakan oleh orangtuanya untuk memungut sampah diletakkan di samping gubug. Jikalau hujan turun, banyak tetes yang jatuh membasahi tempat tidur. Tempat mandi adalah kali Brantas itu sendiri. Tidak heran jika banyak kudis dan koreng yang muncul di pergelangan kaki mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hidup mereka sangat memprihatinkan. Berkali-kali Andri menghilang dari bimbingan sore. Teman-temannya mengatakan bahwa dia meloper koran untuk mendapatkan uang. Ternyata tidak hanya sore hari bahkan pagi haripun dia bolos sekolah dan selalu diperingatkan oleh gurunya untuk rajin masuk kalau tidak mau ketinggalan pelajaran [perlu diketahui Andri sudah dua kali tidak naik kelas]. Uang yang didapatkan adalah bantuan yang sangat berarti bagi kedua orangtuanya untuk bisa makan dengan layak.Tapi apa daya, ini bukan masalah menjadi baik atau tidak melalui system pendidikan formal tapi lebih dari itu, mempertahankan hidup. Pendidikan butuh biaya dan biaya adalah uang. Uang adalah syarat untuk memenuhi kebutuhan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini hidup bukan cuma untuk kebanggaan. Gelar, jabatan ataupun popularitas tidak ada artinya dengan mereka yang sadar bahwa hidup ini adalah demikian berat. Perjuangan untuk mempertahankan hidup. Akhirnya, kami dengan berberat hati mempersilahkan Andri untuk ikut atau tidak dalam bimbingan sore.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahun berikutnya aku sudah tidak aktif lagi dalam kegiatan bimbingan terkait dengan regenerasi organisasi. Aku mengharapkan banyak dari adek-adek tingkat yang mungkin mereka bisa lebih arif dan lebih mau fokus pada masalah pembinaan. Kami tetap percaya bahwa pembinaan , mengubah pola pikir dan cara memandang sesuatu, termasuk hidup adalah penting. Tetapi sayang, sebuah konsep yang penuh dengan idealisme tidak sepenuhnya bisa di jalankan dengan baik. Selalu saja ada kompromi dan ada yang terpaksa dikorbankan dalam proses ini. Andri tidak tersentuh oleh mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Andri yang beranjak dewasa mencoba untuk lebih mandiri. Meninggalkan sekolahnya. Meloper koran bersama adik sepupu yang masih berumur lima tahun, Rahman . Berkali kali aku menemui mereka di sudut-sudut kampusku. Berhenti dan duduk melepas lelah. Berkali kali pula aku tidak tega melihat mereka. Rasa malu meruap. Betapa apa yang kukerjakan tidak mampu membuat mereka menjadi lebih baik. Aku hanya bisa mentraktir mereka makan batagor. Kalau ada uang lebih membeli koran mereka dan bercanda dengan getir. Sampai akhirnya mereka hilang . Orangorang yang mengenal mereka mengatakan bahwa Rahman sudah di ambil oleh Budenya sedangkan Andri tidak punya tempat tinggal. Andri bergelandangan kemana mana. Dia tidak pernah kembali ke bantaran kali Brantas karena memang tidak ada gubug lagi yang bisa dia tempati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu detik, menit, jam , hari, bulan tahun berlalu. Aku masih di sini. Masih mencoba menyelesaikan kuliah. Di sore yang lumayan padat di pusat kota aku melihat sosoknya lagi. Lelaki kecil berambut berwarna yang keras seperti jerami. Wajahnya demikian lusuh. Kurus kering. Ya allah, rasanya mau menangis. Dia banyak bercerita tentang hidupnya dengan bahasanya sendiri. Dia terlihat tegar. Meski tidak bisa dipungkiri gaya hidup anak jalanan sudah melekat. Dia minum,dia merokok, dia menindik telinganya dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa demikian tolol. Jangan tanya tentang konsep yang kupunya. Tentang Tuhan tentang takdir . Uang adalah segalanya saat ini dan bagi kami yang tidak punya uang tidak ada yang bisa kubantu. Beberapa orang mungkin mendirikan rumah singgah , sayangnya Andri tidak terjamah. Dengan sadar aku berikan semua uang yang kupunya untuk akhir bulan itu, lima puluh ribu rupiah. Semoga dia bisa makan dengan layak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kali aku bertemu lagi dengan Andri. Di pasar rakyat yang sesak, di malam-malam yang dingin di pelataran parkir dan prempatan atau pertigaan lampu merah. Bekerja mengais uang dengan cara yang dia bisa. Setiap kali bertemu dia berkata,“Mas rano dari mana? Mau kemana” sebelum akhirnya bilang dia belum makan.Aku hanya bisa memberi apa yang kubisa dan usapan di kepalanya. Semoga hidup ini tidak lagi demikian berat baginya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku menuliskan catatan ini di kamarku yang dingin. Beberapa batang rokok telah habis. Mungkin aku harus berbenah untuk menjadikan hidupku lebih berarti bagi orang lain tidak cuma usapan tapi lebih dari itu membawa mereka kekehidupan yang layak. Mereka patut mendapatkannya atas perjuangan hidup yang mungkin kita tidak pernah rasakan walau sekelumit saja. Begitu banyak pula orang yang tidak punya kemampuan untuk membantu walaupun mereka ingin. Karena uang adalah segalanya, money is badly needed. Setidaknya untuk saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;font color="#cc66cc" size="1"&gt;Images : www.nataliedee.com&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18388380-113048874992361739?l=patheticproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://patheticproject.blogspot.com/feeds/113048874992361739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18388380&amp;postID=113048874992361739' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113048874992361739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18388380/posts/default/113048874992361739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://patheticproject.blogspot.com/2005/10/money-is-badly-needed.html' title='Money Is Badly Needed'/><author><name>Memoar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701087328138996749</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img358.imageshack.us/img358/4952/18hq1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
